Senin, 19 Oktober 2026

WARLOK MEMANG MEMBAKAR, TAPI TIDAK BERBAHAYA

 

Tentang kebakaran hutan dan lahan [terutama di Kalimantan], sebagian orang menyalahkan petani lokal yang membersihkan lahan—untuk dijadikan lahan pertanian—dengan cara membakar. Saya tidak terlalu percaya ini.

Mungkin karena kebetulan aku tinggal di Balangan, dan yang pernah kulihat cuma seputaran Balangan saja. Di area perbukitan, yang sepertinya tanahnya bukan tanah gambut, kebanyakan yang bertani di sana adalah masyarakat Dayak. Tradisi turun-temurun mereka adalah berladang berpindah. Membuka lahan yang semula hutan, untuk dibikin jadi ladang pertanian. Ya, mereka biasa membakar untuk membersihkan lahan. Tapi, mereka memiliki mekanisme khas mereka dalam melakukan pembakaran itu. Mereka memiliki aturan tentang luasan maksimal untuk dibuka dan dibakar, dan selalu melibatkan tetangga alias pemilik lahan di sekeliling mereka. Iya, mereka akan bersama-sama menjaga agar api tidak meluas melebihi yang mereka perlukan dan sepakati. Jadi, tidak pernah aku mendengar pembukaan hutan untuk keperluan ladang masyarakat Dayak itu mengakibatkan kebakaran di luar kendali mereka ataupun mengakibatkan bencana asap. Ya, tentu saja menimbulkan asap pembakaran, tapi—sangat jelas—bukan bencana asap seperti yang kita dapat dari karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Itu di area perbukitan, yang aku nggak yakin tanahnya adalah tanah gambut.

Sedangkan di area dataran, yang banyak di antaranya adalah gambut, rawa-rawa—yang selalu terendam sepanjang musim hujan maupun kemarau—dan dari kejauhan seringkali terlihat hanya sebagai hamparan semak dan rumput liar nan tak estetis, kalau ada penduduk yang akan memanfaatkannya untuk bercocok tanam, sesekali memang ada yang membakarnya. Tapi, tidak langsung membakarnya. Mereka akan menyemprot mati dulu semak-belukar dan rerumputan liar. Setelah vegetasi itu mati kering, barulah dikumpulkan dan dibakar. Apakah tidak berbahaya atau berpotensi terjadi kebakaran lahan di kemudian hari? Tidak juga. Karena, mereka membakar tanpa mengeringkan tanahnya. Juga, mereka melakukan aktivitas itu menjelang musim tanam—yang umumnya juga menjelang musim hujan. Jadi, gak bakalan apinya bertahan lama setelah dipadamkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

di sini boleh komen