Selasa, 18 Juli 2017

Balangan Juara Nasional untuk Pertama Kalinya



Aku memang belum lama jadi warga Balangan. Baru 7 tahun. Sejak 2010, ketika Balangan sudah berusia 7 tahun.

Tapi aku sok yakin bahwa Balangan belum satu kalipun menjuarai atau memenangi apapun di tingkat nasional. Entah itu guru berprestasi, pertandingan olahraga, lomba ternak, kontes kehumasan, atau apapun. Belum pernah, menurutku.

Sampai akhir pekan kemarin. Tepatnya hari Minggu 9 Juli 2017, ketika anak-anak Sekolah Sepak Bola (SSB) Batu Agung—dari Desa Lok Batu Kecamatan Batumandi Kabupaten Balangan—berhasil menang tipis atas tim yang mewakili DKI Jakarta dalam laga final sepakbola Aqua Danone Nations Cup 2017 di Stadium Pakansari, Bogor, Jawa Barat.

Yup, tim sepakbola U-12 itu telah berjuang cukup panjang. Mereka pasti memulainya dari diri sendiri, lalu memantaskan diri menjadi yang terbaik di Balangan agar bisa bertanding ke tingkat Kalselteng (Kalsel dan Kalteng). Lalu menjuarai regional Kalimantan.

Di tingkat nasional, SSB Batu Agung masuk di grup A. Lawan beratnya adalah tim dari DKI Jakarta. Terbukti beratnya, karena di babak penyisihan grup itu Batu Agung kalah melawan tim ibukota itu.

Tapi perjuangan bukan hanya itu. Di pertandingan lain mereka meraih hasil maksimal sehingga masih bisa menjadi runner-up grup A, dan bersama-sama tim Jakarta naik ke perempat final. Kedua tim itu sama-sama berhasil naik lagi ke semifinal, dan bahkan akhirnya bertemu di laga final. Dan di situlah Batu Agung menunjukkan perjuangan-tanpa-kenal-menyerahnya. Mereka membalas kekalahan dari tim ibukota pada saat yang tepat. Menang 1-0 sudah membuat gelar juara nasional aqua danone nations cup 2017 berada di genggaman untuk dibawa pulang ke Balangan.

SSB Batu Agung adalah yang pertama menempatkan Balangan dalam puncak teratas di tingkat nasional. Mereka akan menjadi bagian penting dari sejarah Balangan.

Dan mereka akan ke Amerika untuk bertanding di seri internasional kejuaraan besutan perusahaan air minum—yang mengambil barang dagangannya antara lain dari bumi Indonesia.

Good luck boys!!
Best wishes for all of you.

Kamis, 22 Juni 2017

Mendahului Rasul



Rasulullah menyuruh orangtua mengajarkan anaknya sholat ketika anaknya sudah sampai umur 7 tahun. Rasulullah juga membiarkan cucu-cucunya (saat usianya masih kurang dari 7 tahun) naik ke punggung ketika beliau sedang sholat. Beliau tidak melarang cucu-cucunya melakukan itu.

Tujuh tahun.

Dan siapa muslim dewasa yang tidak pernah mendengar perihal ajaran Sang Rasul tentang kapan waktunya mengajarkan anak sholat? Dan siapa muslim dewasa yang tidak pernah mendengar kisah tentang cucu-cucu beliau yang naik ke punggung beliau ketika beliau sedang sholat?

Dan lihatlah di dekatmu. Anak TK (yang pasti usianya masih di bawah 7 tahun) diajari membaca, berhitung, doa-doa, bacaan sholat, gerakan sholat. Para orangtua beralasan: kalau lebih awal sudah bisa kan lebih baik. Para orangtua itu adalah muslim yang ingin anaknya mengerti agama. Tetapi mereka sendiri “melanggar” hadis/sunnah Rasul tentang kapan mengajari anak sholat—dan beberapa pelajaran lain.

Saya pernah bertanya kepada orangtua yang berpendapat seperti itu. Begini, “Jadi kamu pikir Rasulullah keliru? Atau kamu lebih pintar daripada Rasulullah?”

Tentu saja mereka tidak berani mengaku demikian. Tetapi tersipu-sipu malu, tidak mengungkapkan argumentasi apapun, sambil tidak mau disalahkan atas pendapat mereka itu.

Rabu, 10 Mei 2017

Sekali Kalah Dua Poin



Sebetulnya aku nggak ingin mempublikasikan komentar atau opiniku terkait kasus Ahok. Karena kukira itu tak pantas jadi kasus dan menguras energi kita. Aku tak melihat ada penistaan agama dalam kejadian Ahok di Pulau Seribu tahun lalu itu. Entah karena aku nggak peka, atau karena urusan agama otakku cetek.

Dan kemarin siang, di tipi ada siaran langsung sidang pengadilan yang di dalamnya ada pembacaan vonis untuk terdakwa tindak penistaan agama. Ahok divonis dua tahun penjara—dan langsung ditahan.

Siang itu juga beredar kabar tentang dibubarkannya sebuah organisasi berasas Islam, HTI. Dibubarkan dengan alasan tidak sesuai dengan Pancasila.

Rupanya kedua vonis itu adalah kue yang dibagi rata bagi kubu pro dan kubu kontra kasus Ahok. Itu saja yang ada di dalam kepalaku.

Ya, dalam benakku, peradilan sudah tidak lagi murni peradilan. Ia tidak mampu menutup mata dan telinga, menutup semua pintu, jendela dan ventilasi yang memungkinkan suara-suara dari luar mengganggunya. Aku mengira desakan dari beberapa pihak terlihat dari angin yang berhembus di peradilan.

Dalam benakku, Ahok adalah korban. Kalau dia tidak divonis bersalah, mungkin ada yang melihat kemungkinan terjadinya kerusuhan ala 1998. Apakah umat Islam dimenangkan dengan vonis itu? Tidak. Justru umat Islam dijadikan kambing hitam—sebagai pihak yang memenjarakan seorang pemimpin yang tidak korup.

Di sisi lain, umat Islam jelas dikalahkan dengan dibubarkannya HTI.

Jumat, 03 Maret 2017

Shalawat dan Mimik Muka



Topik ini sudah lama kupikirkan, dan sekarang ini mungkin sedang lewat “peak season” atau kurang tepat momennya untuk menjadi trending topic. Tapi hari ini ada teman yang menulis status di facebook, dan itu mengingatkanku pada topik ini. Jadi, kutulis saja sekarang.

Ini tentang ekspresi wajah orang-orang muslim—setidaknya di kampungku—ketika mereka mengadakan acara maulidan atau acara-acara lainnya yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan. Tepatnya, ketika mereka mengumandangkan shalawat.

Yaa rasul, salam alaika. Yaa habib, salam alaika. Yaa rasul, salam alaika. Shalawatullah wa salam.

Kira-kira begitu sedikit penggalan kalimat shalawat yang mereka lantunkan bersama-sama. Maaf, bila ada kata yang keliru atau kurang tepat penulisannya. Tetapi, arti dari kalimat itu kira-kira begini:

“Wahai rasul, semoga keselamatan tercurah atas dirimu. Wahai sang kekasih, semoga keselamatan tercurah atas dirimu. Wahai rasul, semoga keselamatan tercurah atas dirimu. Semoga shalawat dan keselataman dari Allah untukmu.”

Saya sadar terjemahan-tepatnya mungkin tidak demikian, tetapi sebagai saduran saya yakin itu sudah cukup memberi gambaran maksud dari kalimat shalawat tersebut—bahwa lantunan kalimat shalawat itu adalah sapaan yang sangat mesra yang juga merupakan doa untuk Sang Rasul.

Yang saya heran, ketika orang-orang itu bershalawat bersama-sama di sebuah majelis, di rumah salah seorang warga maupun di masjid/langgar, baik dengan posisi duduk maupun bersama-sama berdiri, tidak ada ekspresi gembira di wajah-wajah mereka. Tidakkah mereka mencintai Sang Rasul? Tidakkah mereka merindukan manusia yang juga kekasih Allah itu? Kenapa tak ada raut kegembiraan dalam sapaan mereka kepadanya?

Saya jadi teringat pengalaman saya ketika sempat beberapa bulan tinggal di Flores Timur. Mayoritas penduduknya beragama Katholik. Salah satu tradisi dalam kegiatan ibadah mereka, yaitu misa, adalah memberikan uang tunai saat ibadah. Entah itu sumbangan, atau persembahan, atau apa namanya. Tetapi saya pikir itu seperti halnya jamaah shalat jumat yang memasukkan uang tunai ke dalam kotak yang diedarkan ke setiap barisan jamaah di dalam masjid.

Dari obrolan dengan sebuah keluarga miskin di sana, saya mendapat pelajaran yang luar biasa. Sang ibu dari keluarga miskin itu dengan mata berbinar-binar menceritakan bahwa mereka selalu berusaha untuk memberikan barang seribu-dua ribu rupiah di setiap misa—betapapun terkadang begitu susahnya mereka mendapatkan itu.

Menceritakan perjuangan berat itu dengan mata berbinar-binar?

Ya! Absolutely yes! Saya sama sekali tidak salah tangkap tentang ekspresi wajah sang ibu yang bercerita itu. Sementara suami, anak dan beberapa kerabat atau tetangganya juga menunjukkan ekspresi wajah sama—atau setidaknya mendukung.

Ketika saya tanya mengapa harus memaksakan diri untuk memberikan uang pada setiap misa, jawaban mereka menjawab keheranan saya mengenai ekspresi wajah-wajah itu.

“Kami tetap usahakan itu,” jawab sang ibu, “karena kami yakin sebagian dari uang yang kami berikan itu akan sampai ke Vatikan.”

Wow …!! Mereka bangga bisa menyumbang sedikit uang untuk pemimpin tertinggi mereka! itu yang membuat mereka rela bersusah payah mencari uang untuk diberikan pada setiap misa. (Tentu saja, mereka sangat yakin kalau uang mereka tidak dikorupsi atau dipergunakan untuk keperluan yang di luar restu mereka)

Kembali kepada shalawat. Bukankan itu sapaan dan doa untuk teladan terbaik, panutan dan junjungan umat muslim di seluruh dunia? Tidakkah mendoakan itu artinya menyumbangkan doa untuk orang yang dituju/dicintai?

Jadi, kenapa shalawat dilantunkan dengan ekspresi wajah datar, atau bahkan tertunduk lesu? Tidakkah seharusnya shalawat diucapkan/dilantunkan dengan ekspresi yang melebihi kegembiraan yang mengiringi ucapan "Selamat pagi, pacarku ..."?