Minggu, 13 Mei 2018

Islam dan Teroris

Dalam Islam ada aturan qishash. Itu tentang hilang nyawa dibayar nyawa.

Jadi, kalau ada orang yang mengaku Islam, mengaku beriman Islam, mengaku bertaqwa, lalu dia membunuh seseorang atau menyuruh orang lain membunuh seseorang (bukan karena membalas tindak pembunuhan yang telah dilakukan oleh seseorang tersebut, dan bukan pula untuk membela diri dari tindakan mengancam nyawa oleh seseorang tersebut) tanpa diikuti tindakan menyerahkan diri untuk dihukum mati (sesuai kaidah qishash) ...dalam bahasa lamaku itu namanya: touwaekk.

Kalau serangan atau bom bunuh diri? Nggak perlu di-qishash?

Hei ...!! Nyawamu tuh Allah yang ngasih. Dia ambil kalau Dia mau, bukan minta elu sok inisiatif nganterin balik pada-Nya. Dalam Islam, mana ada bunuh diri yang dibenarkan?

Gerakan mati syahid? Mencontoh kasus perang Uhud? Well, saat itu tentara muslim terkepung dan secara hitung-hitungan bakalan kalah. Ada sahabat yang menerjang pasukan musuh sambil memutar-mutarkan pedangnya. Karena, pilihannya ada dua: mati oleh musuh, atau mati sambil membunuh musuh.

Itu sangat berbeda dibanding bom bunuh diri, ya! Sahabat yang nekat di perang Uhud itu matinya oleh tangan/senjata musuh, bukan oleh senjata yang dia bawa. Titik.

Senin, 30 April 2018

Relijiusmu?


Ini uneg-uneg saya untuk umat Islam aja.

Apa itu agama? Apa itu ibadah? Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji? Jika sudah melaksanakan lima hal itu, sudahkah kita pantas di sebut relijius?

Berapa detik waktu yang kita perlukan untuk mengucapkan kalimat syahadat?

Berapa menit kita selesaikan satu kali sholat? Dikalikan llima dalam sehari, jadi setengah jam? Atau kkurang?

Berapa hari dalam setahun kita berpuasa?

Berapa kali dalam setahun kita berzakat?

Berapa kali dalam seumur hidup kita berhaji? Atau umrah?

Dari 24 jam per hari yang kita jalani sepanjang usia, adakah waktu yang kita gunakan untuk melaksanakan kelima hal itu mencapai 5 persen? Atau 3 persen?

Saat kita tidak sedang sholat, tidak sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah, tidak sedang khusyuk mengucap syahadat, tidak sedang membaca al-Qur’an, apa yang ktia lakukan? Bekerja mencari nafkah? Ngobrol dengan teman atau orang lain? Menemani anak bermain? Piknik? Jaga parkir?

Yang jelas, sebagian besar waktu kita habiskan bukan untuk bersyahadat, sholat, puasa, berzakat dan berhaji, kan?

Kalau aktivitas yang menghabiskan sebagian besar waktumu itu sesuai dengan tuntunan agama, baru saya akan pertimbangkan untuk menyebutmu orang yang relijius.

Kalau betul kamu muslim, ngapain kamu umrah lagi dan lagi sementara kamu tahu ada warga se-RT-mu orang miskin setiah hari kesulitan cari makan?

Kalau kamu betul muslim, ngapain kamu rusak puasamu dengan berburu takjil sehingga pengeluaran konsumsimu jadi lebih tinggi dibanding hari-hari kamu tidak berpuasa?

Untuk apa sering-sering terdengar bunyi “astaghfirullah” dari mulutmu kalau kamu tidak mengurangi pikiran negatifmu, dan tetap kasar tutur bahasamu kepada anak-anak?

Kamis, 11 Januari 2018

Tahu dan Tidak Mengamalkan



Beberapa orang memiliki pengetahuan, tetapi tidak melaksanakannya. Mungkin mereka kurang mempercayai apa yang diketahuinya.

Banyak orang yang tahu bahwa tindak korupsi itu kejahatan. Banyak orang yang tahu kalau menerima suap itu tindak kejahatan, atau tidak jujur, atau curang, atau tercela. Tetapi mereka yang tahu itu pun berusaha memberi uang kepada polisi lalu-lintas yang hendak memberi sanksi tilang atas pelanggaran yang dilakukannya. Mungkin mereka kurang percaya dampak buruk dari perilaku memberi maupun menerima suap itu.

Banyak muslim yang tahu bahwa sholat berjamaah itu shaf-nya harus rapat dan lurus. Tapi banyak sekali kudapati shaf yang tidak rapat (yang sejak masa kecilku jika melihat itu kemudian langsung terbayang anak-anak setan bergembira bersepeda-ria di sela-sela renggangnya barisan shaf; iya, itu imajinasiku sejak kecil dan masih hingga kini). Mungkin karena mereka kurang percaya bahwa rapat dan lurusnya shaf itu memang wajib atau ada manfaat/hikmahnya.

Banyak orang yang sudah mendengar manfaat milagros, tetapi ketika sakit tidak mau berusaha mendapatkannya. Mungkin mereka kurang percaya pada apa yang mereka dengar tentang manfaat milagros.

Jumat, 25 Agustus 2017

Juara Satu Nasional Lagi



Aku selalu ingat pepatah Melayu: ada satu ada seribu. Apapun itu, bila sudah ada yang memulai, maka akan ada lagi yang berikutnya, dan berikutnya. 

Sekali kamu meraih prestasi, kamu akan terdorong untuk meraih prestasi berikutnya, dan berikutnya. Sekali kamu mencuri, kamu akan mencuri lagi.

(Ah, jadi ingat pepatah Sicilia: sekali kamu memaafkan seorang pencuri, dia akan mencuri lagi.)

Ini tentang Balangan. Setelah Tim SSB Batu Agung membawa pulang gelar juara pertama nasional, alhamdulillah tak lama berselang ada lagi gelar juara nasional dibawa pulang ke Balangan.

Kali ini dari ajang lomba guru berprestasi—atau semacam itu. Adalah Ahmadiyanto, seorang guru di SMP Negeri Lampihong, yang (tanggal 18 atau 19 Agustus 2017 ya?) mendapatkan gelar juara itu.

Aku bangga? Ya, Iyalah. KTP-ku Balangan. Ada orang [yang sehari-hari berkarya di] Balangan mewakili Balangan dan meraih gelar juara satu nasional.

Bahkan, secara pribadi aku bangga dan bergembira lebih dari itu. Karena, runner-up dari ajang lomba itu adalah sahabat masa remajaku, kawan se-almamater di SMP dan SMA, bahkan pernah sekelas. Ialah Herni Budiati, yang sekarang menjadi warga kota Solo dan berprofesi sebagai guru SMP di sana. (SMP Negeri 22 kah, Her?)

Itu aja. Sekadar mencatat. 😊