Selasa, 13 September 2016

Menjadi Contoh dan Mengontrol Contoh



Memiliki anak bukan sesuatu yang biasa bagi saya. Karena saya seorang muslim, dan semenjak kecil saya diberitahu bahwa salah satu pahala yang tak ada putus-putusnya adalah anak yang shaleh, yang mendoakan kedua orangtuanya, maka saya menganggap anak sebagai tiket saya untuk kelak ke surga.

Ya, sebaik apapun saya, bila saya punya anak tetapi tidak mendidiknya dengan baik, dia akan menggagalkan upaya saya meraih surga. Karena anak adalah tanggung jawab. Menikah adalah pilihan saya. Berhubungan intim dengan istri adalah pilihan saya. Memiliki anak adalah konsekuensinya—sekaligus pilihan saya juga. Jadi, bagaimana mungkin bila anak berbuat kurang baik lalu itu bukan tanggung jawab saya?

Lalu, bagaimana cara terbaik mendidik anak?

Well, pada intinya satu hal saja: ajarkan yang baik-baik pada anak.

Masalahnya, kemampuan anak (verbal, mendengar, fokus, menganalisa, berjalan, melompat, apapun …) tidak sebaik kita yang sudah dewasa. Kita ngomel-ngomel atau memberi nasehat sampai berbusa-busa tidak akan memberi banyak hasil.

Yang paling efektif adalah membiarkannya belajar sendiri. Yup, anak akan mengamati semampunya, menganalisa semampunya, menirukan semampunya. Kabar buruknya, sesuatu yang negatif selalu lebih mudah dan lebih cepat dia tirukan.

Jadi, cara terbaik mendidik anak adalah: jadilah contoh yang baik.

Ketika anak marah dan ngomel-ngomel, dengarkanlah baik-baik dan ingat-ingatlah siapa orang di sekitarnya yang ngomel seperti itu.

Ketika anak pilih-pilih makanan—dan lebih menyukai makanan bergizi buruk—maka ingat-ingatlah siapa yang sejak biasa memberinya makanan.

Maaf jika kalimat-kalimat itu seakan-akan menembak pada sosok ibu. Karena memang—dalam situasi normal alias ceteris paribus—ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Ibu adalah orang yang paling banyak dan paling intens berinteraksi dengan anak pada usia emas (usia 0 – 6 tahun).

Tetapi tentu saja, kalimat-kalimat itu sebenarnya untuk ayah juga. Meskipun “jam tayang” ayah bersama anak tidak sebanyak ibu, seharusnya ayah juga berperan besar. Tidak hanya dalam hal menjadi contoh yang baik bagi si anak, tetapi juga dalam “mengendalikan” materi contoh dari ibu untuk anak—bila diperlukan.